KATASUKABUMI.com – Pemanfaatan Stadion Surya Kencana (Surken) sebagai lokasi kegiatan berskala besar kembali menjadi perhatian publik, menyusul kondisi stadion pascakonser yang sempat viral di media sosial. Selain soal kondisi fisik stadion, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga turut menjadi sorotan.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi, Rahmat Sukandar, menyampaikan bahwa kondisi stadion yang beredar luas di media sosial merupakan situasi sesaat setelah konser berakhir.
“Foto yang beredar itu sekitar enam jam setelah konser. Saat itu memang masih berantakan, tapi sekarang kondisinya sudah membaik dan bisa digunakan kembali,” ujar Rahmat kepada katasukabumi.com, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, pihak penyelenggara atau event organizer (EO) telah melakukan pembersihan dan perbaikan, termasuk penanganan pada area lapangan yang terdampak.
“EO juga memperbaiki, menanam kembali rumput, bahkan beberapa bagian yang sebelumnya rusak juga ikut dibenahi,” katanya.
Terkait kondisi lapangan yang sempat berlumpur, Rahmat menyebut faktor cuaca turut memengaruhi jalannya kegiatan.
“Hujan menjadi salah satu faktor, sehingga lapangan sempat tertutup lumpur. Namun saat ini kondisinya sudah kembali normal,” terangnya.
Di sisi lain, penggunaan stadion untuk kegiatan seperti konser disebut tetap mengikuti mekanisme yang berlaku, termasuk dalam hal perizinan dan penerapan retribusi daerah.
“Penggunaan sarana-prasarana daerah itu ada retribusinya dan kami terapkan sesuai perda,” ungkapnya.
Meski demikian, kontribusi PAD dari pemanfaatan Stadion Surya Kencana masih relatif terbatas. Pada tahun sebelumnya, pemasukan dari sektor ini tercatat belum signifikan.
“Tahun kemarin masih di bawah Rp5 juta,” ungkap Rahmat.
Menurut Rahmat, ke depan pemerintah akan berupaya mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah agar dapat memberikan nilai tambah, seiring meningkatnya aktivitas di stadion.
Selain itu, kebutuhan anggaran pemeliharaan juga menjadi perhatian, terutama dalam kondisi efisiensi anggaran yang saat ini masih berjalan.
“Kita berharap ke depan ada anggaran rutin untuk pemeliharaan, tentu disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa keterbatasan fasilitas menjadi salah satu faktor Stadion Surya Kencana masih digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk event hiburan.
“Kita memang terbatas venue, sehingga stadion masih menjadi salah satu pilihan,” jelasnya.
Sehingga menurutnya, dengan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan, termasuk hiburan. Pemerintah melihat adanya potensi dari sektor ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan.
“Pengelolaan fasilitas publik seperti stadion diharapkan dapat berjalan lebih optimal, baik dari sisi fungsi maupun kontribusinya terhadap daerah.” Tutup Rahmat.

