FT: Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Agus Samsul
KATASUKABUMI.com – Ada satu kebiasaan dalam dunia politik yang kerap berulang. Janji diucapkan dengan suara lantang, disambut tepuk tangan, lalu perlahan menghilang ditelan kesibukan birokrasi.
Bagi Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Agus Samsul, momentum Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk terus menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sesuai fungsi dan peran masing-masing.
Menurutnya, Pancasila tidak boleh hanya dijadikan slogan atau sekadar materi seremoni tahunan. Lebih dari itu, Pancasila harus menjadi semangat yang hidup dan menjadi pedoman dalam membangun kreativitas, kebersamaan, serta tanggung jawab kebangsaan.
“Pancasila jangan hanya menjadi kalender peringatan. Ia harus menjadi kompas dalam menjalankan pemerintahan,” ujar Agus kepada katasukabumi.com (1/6).
Ia menilai, peringatan Hari Lahir Pancasila juga menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita bangsa telah berjalan dan seberapa besar manfaat pembangunan telah dirasakan oleh masyarakat.
Menurut Agus, rakyat tidak sedang menunggu pidato yang lebih panjang. Mereka menunggu jalan yang diperbaiki, pelayanan yang dipermudah, lapangan pekerjaan yang bertambah, serta kebijakan yang mampu menjawab persoalan sehari-hari.
Di tengah berbagai dinamika yang berkembang di Kota Sukabumi, ia melihat masyarakat kini semakin kritis. Warga tidak lagi hanya mendengar apa yang diucapkan para pemimpin, tetapi juga memperhatikan apa yang benar-benar dikerjakan.
Hal tersebut, menurutnya, merupakan perkembangan yang baik bagi kehidupan demokrasi.
“Rakyat hari ini tidak mudah terpesona oleh kata-kata. Mereka ingin melihat hasil. Dan itu memang hak mereka,” katanya.
Agus menambahkan, jabatan publik pada hakikatnya merupakan amanah yang dipinjamkan oleh masyarakat. Karena itu, setiap pemegang jabatan harus siap dievaluasi, dikritik, bahkan ditagih atas komitmen yang pernah disampaikan kepada publik.
Baginya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa sering namanya muncul dalam pemberitaan, melainkan pada seberapa besar manfaat kehadirannya dirasakan oleh masyarakat.
“Mungkin rakyat bisa lupa isi sambutan seorang pejabat. Tetapi rakyat jarang lupa terhadap janji yang menyangkut kehidupan mereka,” tuturnya.
Karena itu, momentum 1 Juni tidak cukup dimaknai sebagai hari peringatan Pancasila semata. Lebih dari itu, hari tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Sebab pada akhirnya, rakyat tidak meminta sesuatu yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin apa yang dijanjikan tidak berhenti sebagai kalimat, tetapi berubah menjadi kenyataan,” pungkasnya. (R)

