FT: Anggota DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Iyus Yusuf
KATASUKABUMI.com– Tanggal 1 Juni selalu ramai. Mikrofon bekerja keras, podium berdiri tegak, dan kalimat-kalimat tentang Pancasila berhamburan ke udara. Semua tampak khidmat. Semua tampak sepakat.
Lalu datanglah tanggal 2 Juni.
Biasanya tidak ada upacara. Tidak ada barisan. Tidak ada lagu kebangsaan yang diputar berulang-ulang. Yang ada hanya pekerjaan rumah yang kembali menumpuk di meja pemerintah dan wakil rakyat.
Seorang anggota Dewan Perwakikan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sukabumi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Iyus Yusuf menilai, justru pada tanggal 2 Juni itulah Pancasila mulai bekerja. Sebab Pancasila tidak hidup di dalam spanduk, melainkan di dalam keputusan. Tidak tinggal di baliho, melainkan di dalam kebijakan.
“Kalau pada 1 Juni semua orang bisa berbicara tentang Pancasila, maka pada 2 Juni saatnya membuktikan siapa yang benar-benar menjalankannya,” ujar Iyus kepada katasukabumi.com (1/6).
Menurutnya, sila-sila dalam Pancasila sering kali terdengar indah saat dibacakan. Persoalannya, kehidupan rakyat tidak berlangsung di dalam naskah pidato. Ia berlangsung di jalan yang berlubang, di ruang pelayanan publik, di pasar, di sekolah dan di rumah-rumah warga yang berharap hidupnya sedikit lebih baik dari hari kemarin..
Karena itu, kata Iyus, tugas pemerintah Daerah dan DPRD tidak selesai setelah mengikuti upacara. Bahkan bisa dikatakan baru dimulai.
Setiap kebijakan, setiap program, bahkan setiap rupiah uang rakyat yang dikelola pemerintah pada akhirnya akan ditanya oleh masyarakat, untuk siapa semua itu dibuat?
“Rakyat biasanya tidak terlalu hafal isi pidato pejabat. Tapi rakyat sangat hafal janji yang pernah diucapkan pejabat,” katanya.
Di tengah berbagai dinamika yang berkembang di Kota Sukabumi, ia juga mengingatkan bahwa kritik tidak selalu lahir dari kebencian. Kadang-kadang kritik lahir karena harapan yang belum menemukan jawaban.
Pemerintahan yang sehat, menurutnya, bukan pemerintahan yang sepi kritik, melainkan pemerintahan yang cukup percaya diri untuk mendengar kritik.
“Sebab sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan sering kali jatuh bukan karena terlalu banyak mendengar rakyat, melainkan karena terlalu lama mendengar dirinya sendiri.” Ungkapnya.
Pada akhirnya, Pancasila tidak membutuhkan peringatan setiap hari. Yang dibutuhkannya hanyalah sedikit lebih banyak kejujuran, sedikit lebih banyak keberanian dan sedikit lebih banyak kesetiaan pada amanat rakyat. (R)

