Ketua Umum PB PMII, Mohammad Shofiyulloh Cokro.
KATASUKABUMI.com – Kampus seharusnya menjadi tempat orang berbeda pendapat tanpa harus berbeda nasib. Tempat ide bertarung, bukan orangnya. Tempat argumen diuji dengan argumen, bukan dengan volume suara atau jumlah massa.
Sayangnya, akhir-akhir ini suasana itu terasa mulai berubah. Orang lebih cepat tersinggung daripada berpikir. Lebih gemar membatalkan lawan bicara daripada membantah pikirannya. Padahal sejarah kemajuan tidak pernah lahir dari ruang yang sepi perdebatan, melainkan dari perdebatan yang sehat.
Kegelisahan itulah yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Mohammad Shofiyulloh Cokro. Menurutnya, gerakan mahasiswa sedang menghadapi tantangan serius berupa turbulensi intelektualitas. Mimbar demokrasi yang seharusnya menjadi ruang dialektika perlahan bergeser menjadi arena saling serang dan persekusi terhadap ruang dialog.
“Ketika argumentasi tidak lagi dijawab dengan kontra-argumentasi, melainkan dengan pemaksaan kehendak, di situlah disorientasi gerakan sedang terjadi. Persekusi terhadap ruang dialektika seperti ini tentu tidak dapat dibenarkan atas alasan apa pun,” tegas Cokro dalam keterangannya dijakarta, Rabu (17/06/26)
Bagi PB PMII, perbedaan pandangan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan tidak lagi dijawab dengan pemikiran, melainkan dengan pemaksaan. Sebab ketika argumen dibungkam, yang kalah bukan hanya satu kelompok, tetapi juga akal sehat.
“Bagi PMII, kebebasan yang hakiki adalah kebebasan yang juga menghormati hak orang lain untuk menguji gagasan secara terbuka,” lanjutnya.
Karena itu, PB PMII menyerukan penguatan Gerakan Persatuan Nasional di kalangan mahasiswa dan pemuda. Persatuan yang dimaksud bukan persatuan untuk seragam dalam berpikir, melainkan kesediaan untuk tetap duduk semeja meski berbeda pandangan.
Dalam pandangan PB PMII, intelektualitas harus kembali ditempatkan sebagai kompas utama gerakan. Sebab mahasiswa yang kehilangan intelektualitas ibarat pelaut kehilangan arah, masih bergerak, tetapi tidak tahu ke mana akan berlabuh.
Gerakan mahasiswa juga didorong untuk kembali mengedepankan data, kajian dan kedewasaan dalam merespons berbagai persoalan publik maupun kebijakan pemerintah. Kritik tetap penting, bahkan wajib. Namun kritik yang lahir dari amarah sesaat sering kali hanya menambah kebisingan, sementara kritik yang lahir dari pengetahuan berpeluang melahirkan perubahan.
Pada akhirnya, kampus tidak membutuhkan lebih banyak teriakan. Kampus membutuhkan lebih banyak pemikiran. Sebab bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang yang berbicara, tetapi masih membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia berpikir sebelum berbicara. (R)
