KATASUKABUMI.com – Di banyak tempat, Kuliah Kerja Nyata (KKN) kerap dikenang lewat spanduk yang memudar, foto bersama, atau laporan tebal yang akhirnya berdebu di rak perpustakaan. Namun, sepuluh mahasiswa KKN Mandiri Universitas Nusa Putra memilih meninggalkan sesuatu yang lebih sulit dilupakan: sebuah mesin yang bisa terus bekerja, bahkan setelah mereka pulang.
Di Kampung Batu Karut RT 03 RW 08, Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja, persoalan pupuk bukan lagi sekadar keluhan di warung kopi. Hasil survei yang dilakukan tim KKN menemukan kenyataan bahwa pupuk yang dahulu relatif mudah diperoleh melalui kelompok tani kini semakin langka. Sementara tanaman tak mengenal kata “menunggu”, tanah pun tidak bisa terus diminta bersabar.
Dari kegelisahan itulah lahir sebuah gagasan yang sederhana, tetapi membumi, membuat mesin pencacah bahan organik sebagai jalan menuju kemandirian pupuk kompos.
Tim KKN Mandiri Universitas Nusa Putra yang diketuai Moh Rival Virgiawan dari Program Studi Teknik Sipil menggandeng mahasiswa lintas disiplin. Jurusan Teknik Mesin menangani proses perancangan dan perakitan mesin, sementara mahasiswa PGSD mengambil peran dalam edukasi, sosialisasi dan pendampingan masyarakat.
Anggota tim tersebut terdiri atas Moh Rival Virgiawan (Teknik Sipil), Wardah Lukman, Syifa Rahayu Agustiani, Marni Handayani, Fauzan Fattullah, dan Imelda Putri Nursyifa dari PGSD, serta M. Lutfi, M. Fadhiil Pratama, Randi Rizki Prajagustian dan Moch Rifqi Septian S dari Teknik Mesin.
Mesin itu mungkin hanya berbentuk rangka besi dengan bilah pencacah. Namun, di tangan warga, ia dapat menjadi pengubah cerita. Rumput liar, ranting, daun gugur dan limbah tanaman yang selama ini dianggap tidak berguna, perlahan berubah menjadi bahan baku pupuk organik. Sampah yang biasanya menjadi persoalan, kini justru menjadi jawaban.
“Kami hadir bukan hanya membawa wacana, melainkan solusi nyata. Selain menyediakan pupuk murah bahkan gratis bagi warga, program ini juga membantu menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian Situ Batu Karut,” ujar Moh Rival Virgiawan kepada katasukabumi.com (10/07/2026).
Barangkali memang begitu semestinya makna pengabdian. Mahasiswa tidak datang untuk mengajari desa bagaimana hidup, tetapi belajar bersama desa bagaimana menyelesaikan persoalan dengan ilmu yang mereka miliki.
Program ini tidak berhenti pada pembuatan alat. Tim KKN juga menyiapkan pelatihan bagi warga dan kelompok tani agar mampu mengoperasikan sekaligus merawat mesin secara mandiri. Sebab sebuah mesin hanya akan menjadi besi tua jika tidak diwariskan pengetahuan kepada orang-orang yang menggunakannya.
“Kehadiran kami sebagai mahasiswa KKN Mandiri ingin membuktikan bahwa pemuda bisa berkontribusi langsung untuk kemajuan lingkungan sekitar,” tambah Rival.
Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk memperdebatkan solusi dari balik layar telepon genggam, sepuluh mahasiswa ini memilih berkeringat di lapangan. Mereka mungkin tidak mengubah dunia dalam hitungan minggu.
Namun, jika satu mesin mampu melahirkan pupuk, menjaga lingkungan dan membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk yang kian sulit diperoleh, maka KKN kali ini telah meninggalkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar tanda tangan di lembar penilaian.
Karena sejatinya, ilmu tidak sedang mencari tepuk tangan. Ilmu hanya ingin menjadi manfaat. (R)
