KATASUKABUMI.com – Penelitian terhadap manuskrip kuno koleksi Museum Prabu Siliwangi yang terletak di lingkungan Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath memasuki tahap pendalaman. Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini fokus mengkaji isi salah satu naskah yang memuat resep pengobatan tradisional atau “patambaan”.
Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan sejarah, M.Irfan Machmud, menjelaskan bahwa penelitian tahap sebelumnya yang dilakukan tahun lalu masih sebatas identifikasi fisik dan pengkatalogan naskah. Sementara pada tahap lanjutan ini, kajian diarahkan pada isi naskah secara menyeluruh.
“Sekarang kita mendalami satu naskah yang berisi resep-resep pengobatan herbal beserta metodenya. Informasi di dalamnya sangat kaya terkait pengobatan tradisional,” ujarnya kepada katasukabumi.com di Ponpes Dzikir Al-fath Jalan Merbabu, Perum Kencana, Gunungpuyuh (15/04).
Naskah yang diteliti memiliki ketebalan 148 halaman, ditulis menggunakan aksara Jawa dengan bahasa Jawa dialek Cirebon, serta mengandung pengaruh kosa kata Sunda. Isi naskah disebut merupakan dokumentasi pengalaman empiris masyarakat masa lalu dalam bidang pengobatan.
“Ini seperti kumpulan resep jamu. Dicatat dari pengalaman orang tua zaman dulu, mulai dari jenis tanaman, cara pengolahan, hingga manfaatnya,” jelasnya.
Dari hasil identifikasi, terdapat sedikitnya 28 jenis tumbuhan yang disebut memiliki khasiat pengobatan. Beberapa di antaranya seperti daun sirih dan mengkudu masih dikenal hingga kini, meski ada juga tanaman yang mulai langka dan berpotensi untuk dibudidayakan kembali.
Selain pengobatan, manuskrip tersebut juga memuat berbagai pengetahuan lain seperti perhitungan hari lahir, hari baik dan buruk, hingga unsur perbintangan, yang menunjukkan kompleksitas isi naskah.
Meski demikian, Ia menegaskan bahwa informasi khasiat tersebut masih bersifat empiris dan perlu diuji lebih lanjut secara ilmiah melalui uji laboratorium.
“Untuk membaca keseluruhan naskah saja membutuhkan waktu satu hingga dua bulan, belum termasuk penelitian lanjutan seperti identifikasi nama latin tanaman,” tambahnya.
Sementara itu, pengasuh Pendiri museum sekaligus Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-fath , Kh. M.Fajar Laksana bahwa manuskrip yang diteliti merupakan bagian dari 29 naskah kuno yang telah dikategorikan sebagai artefak berdasarkan kajian Filologi. Naskah-naskah tersebut diperkirakan berasal dari akhir 1800-an hingga awal 1900-an.
“Kalau sebelumnya hanya melihat keaslian dan daftar isi, sekarang mulai dibedah satu per satu temanya, salah satunya tentang pengobatan tradisional,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan adanya kesesuaian antara isi manuskrip dengan praktik pengobatan herbal yang selama ini ia jalankan secara turun-temurun.
“Saya belajar dari keluarga secara praktik, tapi ternyata ramuannya sama dengan yang tertulis di kitab, padahal saya tidak pernah membacanya sebelumnya,” ungkapnya.
Hasil penelitian ini telah diseminarkan sebagai bagian dari upaya publikasi sekaligus penguatan keaslian manuskrip. Ke depan, naskah “patambaan” ini berpotensi diusulkan sebagai cagar budaya, sementara praktik pengobatannya dapat diajukan sebagai warisan budaya tak benda.
“Ini menjadi aset tambahan bagi Kota Sukabumi,” katanya.
Lebih jauh, keberadaan manuskrip ini dinilai mampu mendorong Sukabumi sebagai kota pariwisata berbasis budaya dan pendidikan. Dengan dukungan kajian akademik, naskah kuno ini diharapkan menarik minat wisatawan, pelajar, hingga peneliti dari berbagai daerah dan mancanegara.
Bahkan, pada 20 Mei mendatang, rombongan dari Eropa dijadwalkan datang ke Sukabumi untuk mempelajari nilai budaya yang terkandung dalam manuskrip serta praktik tradisi lokal.
Dengan meningkatnya kunjungan tersebut, diharapkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah, mulai dari sektor perhotelan, kuliner, hingga jasa lainnya, serta berkontribusi pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Sukabumi.

