KATASUKABUMI.com – Berdasarkan data BNBA (By Name By Address) per 1 April 2026, jumlah warga miskin di Kota Sukabumi tercatat sebanyak 8.937 kepala keluarga atau 31.163 jiwa. Di sisi lain, angka kemiskinan juga menunjukkan penurunan dari 7,20 persen pada 2024 menjadi 6,90 persen pada 2025.
Kepala Dinas Sosial Kota Sukabumi, Asep Suhendrawan, menyebutkan penurunan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menekan angka kemiskinan, termasuk menuju target penghapusan kemiskinan ekstrem hingga 0 persen.
“Penurunan ini menunjukkan ada progres, meskipun target 0 persen itu tidak mudah dan harus dilakukan secara bertahap,” ujar Asep di ruang kerjanya, kepada katasukabumi.com, Kamis (30/4).
Meski secara persentase mengalami penurunan, jumlah warga miskin di Kota Sukabumi masih tergolong cukup besar.
Asep menjelaskan, kemiskinan ekstrem sendiri merujuk pada kelompok masyarakat yang berada pada kategori paling bawah atau desil satu, sehingga membutuhkan perhatian lebih dalam penanganannya.
“Upaya penanganan kemiskinan tidak hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi juga mencakup berbagai aspek lain seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar,” jelasnya.
Di bidang kesehatan, masyarakat kurang mampu difasilitasi melalui program BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah pusat, serta dukungan dari pemerintah daerah bagi yang belum tercover.
Sementara di sektor pendidikan, bantuan diberikan melalui Program Indonesia Pintar agar masyarakat tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
Adapun dari sisi sosial, lanjutnya, yang dilakukan Dinas Sosial yaitu menjalankan berbagai program pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk bantuan pangan, program permakanan, serta kegiatan rutin yang dilakukan secara berkala.
“Dari sisi itu kami masuk, untuk menangani kemiskinan, terdapat pula program pemberdayaan masyarakat melalui bantuan modal usaha dan sembako yang menyasar KPM,” terang dia.
Setiap tahunnya, program ini menargetkan lima KPM di setiap kelurahan atau sekitar 165 KPM dari total 33 kelurahan di Kota Sukabumi.
Asep menegaskan bahwa penanganan kemiskinan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai perangkat daerah, mengingat indikator kemiskinan mencakup banyak aspek kehidupan masyarakat.
“Semua sektor harus bergerak bersama, karena kemiskinan ini tidak hanya soal bantuan sosial saja,” katanya.
Dengan tren penurunan yang ada, Pemerintah Kota Sukabumi optimistis upaya penanganan kemiskinan dapat terus berjalan, meskipun target penghapusan kemiskinan ekstrem hingga nol persen masih membutuhkan waktu dan kerja sama lintas sektor.

