KATASUKABUMI.com – Kasus pasien penderita campak di Kota Sukabumi hingga awal April 2026 kini sudah mencapai 26 kasus. Sementara jumlah suspek penyakit campak mencapai 44 kasus. Adapun 7 kasus lainnya negatif.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Ida Halimah, pada Senin (6/4). Ida mengatakan, dari 36 spesimen yang dikirimkan untuk diperiksa ke laboratorium, teryata masih ada 3 yang hasilnya belum keluar.
“Tidak menutup kemungkinan masih berkembang. Sementara yang negatif hasil pemeriksaan di laboratorium sebanyak 7 kasus,” katanya.
Ida menjelaskan, kasus campak menunjukkan kecenderungan terus meningkat hingga awal 2026, dan pertambahan pasien campak terjadi saat periode mobilitas tinggi seperti Hari Raya Idulfitri. “Perlu diketahui, penularan virus campak sangat cepat. Dan penularan bisa melebihi COVID,” ucapnya.
Dia mengatakan, penularan campak tidak mengenal usia. Hampir semua usia bisa terpapar. Baik anak-anak maupun dewasa berpotensi tertular campak. “Meskipun mayoritas terjadi pada anak-anak yang imunisasinya belum lengkap,” katanya.
Guna mencegah penyebaran makin meluas, kata Ida, Dinkes Kota Sukabumi terus melakukan pemantauan intensif terhadap penyebaran campak. “Kami melakukan serangkaian monitoring langsung disejumlah fasilitas kesehatan seperti puskesmas, serta penelusuran ke lapangan ketika ditemukan kasus di suatu wilayah,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinkes, kasus campak tersebar di seluruh wilayah Kota Sukabumi. Jika dilihat per wilayah kerja puskesmas, jumlah suspek tertinggi ditemukan di Puskesmas Sukabumi dan Puskesmas Karangtengah, masing-masing 7 kasus. Disusul Puskesmas Baros dengan 6 kasus, sementara wilayah lain berkisar antara 1 hingga 4 kasus.
Ida memaparkan, campak merupakan penyakit yang berbahaya, terutama bagi individu dengan imunitas rendah. Penyakit ini berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti infeksi paru-paru hingga kematian. “Kalau imunitas rendah, campak bisa menyebabkan komplikasi, misalnya menyerang paru-paru dan berpotensi fatal,” katanya.
Ida mengatakan, Dinkes Kota Sukabumi dalam waktu dekat akan melaksanakan program imunisasi kejar bagi masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Sebelum pelaksanaan, pihaknya juga akan menggelar bimbingan teknis (Bimtek) bagi petugas lapangan.
Selain itu, lanjut Ida, koordinasi lintas sektor juga akan diperkuat, termasuk melibatkan Kementerian Agama dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan pemahaman pentingnya imunisasi di tengah masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mendukung program imunisasi, termasuk aktif dalam kegiatan Posyandu. Peran tokoh agama dan masyarakat juga sangat penting dalam mensosialisasikan pentingnya imunisasi,” pungkasnya.

