KATASUKABUMI.com – Lonjakan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) di Kota Sukabumi mendorong perluasan layanan penanganan. Hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 104 kasus gigitan, mendekati sepertiga dari total kasus sepanjang 2025 yang mencapai 380 kejadian.
Meski belum ditemukan kasus positif rabies, tren ini tidak bisa dianggap ringan. Penyakit ini memiliki tingkat kematian hampir 100 persen jika tidak ditangani dengan cepat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Ida Halimah, mengatakan perluasan layanan menjadi langkah mendesak.
“Sejak 2017 kita baru punya satu Rabies Center. Melihat tren gigitan yang terus ada, tahun ini kita tambah tiga lagi di puskesmas,” ujarnya kepada katasukabumi.com, Senin (4/5).
Tiga lokasi baru tersebut rencananya berada di Puskesmas Sukabumi, Baros dan Cipelang. Ia juga melanjutkan, Fenomena yang cukup mencolok, mayoritas korban gigitan justru bukan warga Kota Sukabumi. Sekitar 61 persen pasien berasal dari luar daerah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, menjelaskan bahwa kondisi ini menjadi tantangan tersendiri.
“Banyak yang datang berobat ke sini, tapi domisilinya di luar kota. Saat sudah pulang, pengawasan lanjutan jadi tidak maksimal,” jelasnya.
Denna melanjutkan, dikalangan masyarakat sendiri masih banyak yang Salah Kaprah yaitu merasa Aman Setelah Digigit. Padahal penanganan awal justru menjadi faktor paling krusial yang sering diabaikan masyarakat.
“Begitu digigit, itu bukan langsung panik ke vaksin. Yang paling penting, lukanya harus dicuci pakai sabun atau deterjen, minimal 15 menit di air mengalir,” katanya.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap sepele tahap awal ini, padahal justru di situlah risiko bisa ditekan.
“Virus rabies itu lemah terhadap deterjen. Kalau penanganan awalnya benar, risikonya bisa jauh berkurang,” tambahnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa semua gigitan harus berujung vaksin.
“Kalau hewan yang menggigit sudah jelas divaksin lengkap, biasanya cukup perawatan luka. Tapi kalau hewan liar atau tidak jelas statusnya, itu tidak boleh ditunda, harus langsung vaksin,” tegas Denna.
Selain itu , ia juga menambahkan, meski belum ada kasus positif, kewaspadaan tetap tinggi. Selain anjing dan kucing, kini musang mulai masuk dalam kategori hewan penular karena banyak dipelihara.
“Jenis hewan penular sekarang makin beragam. Bahkan di daerah lain, sudah ada temuan pada kelelawar. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Di sisi lain, sambung dia, upaya eliminasi rabies tidak cukup hanya dari layanan kesehatan.
“Kalau gigitan terus terjadi, artinya pengendalian di hulunya belum optimal. Ini harus jadi perhatian bersama, tidak bisa hanya di sektor kesehatan,” tegasnya.

