Foto : Suasana Temu Kader KPNU di Pondok Pesantren Al-Muslim Kota Sukabumi
KATASUKABUMI.com — Di zaman ketika orang lebih mudah ribut daripada duduk bersama, sekitar 400 kader Nahdlatul Ulama justru memilih berkumpul di Pondok Pesantren Al-Muslim Kota Sukabumi.
Mereka datang dari berbagai daerah seperti Sukabumi, Bogor, Cianjur dan Bekasi. Membawa peci hitam, sarung, dan mungkin juga sedikit kegelisahan tentang masa depan umat.
Bukan demonstrasi. Bukan pula rapat pembagian kekuasaan.
Mereka hadir dalam kegiatan Temu Kader Penggerak NU, sebuah forum yang terasa lebih mirip reuni santri daripada agenda organisasi. Ada tawa kecil, ada obrolan hangat, ada pula pembicaraan serius tentang pesantren, kaderisasi, hingga marwah Nahdlatul Ulama di tengah zaman yang semakin gaduh.
Di dalam aula Pondok Pesantren Al-Muslim itu, suasana terasa seperti NU zaman dulu yang masih betah duduk berjam-jam tanpa perlu pendingin. Peci hitam berjejer seperti barisan doa.
Sebagian duduk bersila, sebagian lagi sibuk mencatat, sementara di atas panggung para instruktur nasional berbicara tentang kaderisasi dan tanggung jawab moral warga Nahdliyin terhadap bangsa.
Hadir dalam kegiatan itu instruktur nasional PKPNU seperti KH Abdul Mun’im DZ, KH Adnan Anwar, beserta jajaran instruktur nasional lainnya.
Turut hadir pula kader KPNU yang kini berada di parlemen, yakni Anggota DPR RI, Zainul Munasichin, Anggota DPRD Jawa Barat, Hasim Adnan, serta Anggota DPRD Kota Sukabumi, Agus Samsul.
Menariknya, meski banyak tokoh politik hadir, forum itu nyaris tidak dipenuhi aroma politik praktis. Yang lebih sering terdengar justru kalimat tentang akhlak, Aswaja dan pentingnya menjaga pesantren agar tetap menjadi tempat orang tua menitipkan harapan.
Koordinator KPNU Sukabumi Sekaligus Panitia Temu kader KPNU, Daden Sukendar, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai upaya menghidupkan kembali semangat kaderisasi dan silaturahmi antar kader penggerak NU.
“Alhamdulillah yang hadir mencapai sekitar 400 kader. Ini menunjukkan semangat kaderisasi dan kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama masih sangat kuat,” ujarnya kepada katasukabumi.com di sela kegiatan (17/5).
Menurut Daden, KPNU memiliki dua misi penting, yaitu memperkuat nasionalisme NKRI dan memperkuat pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdliyah.
Karena itu, kata dia, kaderisasi tidak boleh berhenti hanya karena suasana politik.
“Dulu sempat kita hentikan karena banyak yang menganggap kegiatan seperti ini konsolidasi politik. Padahal bukan. Kita hanya ingin mengecas kembali semangat ke-NU-an,” katanya.
Dalam forum tersebut, persoalan pesantren juga menjadi perhatian serius. Belakangan, sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang menyeret lembaga pendidikan berbasis pesantren membuat sebagian masyarakat mulai cemas.
Daden mengatakan Nahdlatul Ulama harus tetap menjadi rumah besar yang menjaga akhlak dan kepercayaan umat.
“Nahdlatul Ulama itu ibarat pesantren besar. Jangan sampai ikut tercoreng oleh perilaku segelintir oknum,” ujarnya.
Di sela kegiatan kaderisasi, para peserta juga mengikuti sosialisasi Program dan Manfaat BPJS Kesehatan bersama Zainul Munasichin. Forum itu menjadi bukti bahwa kaderisasi NU tidak hanya bicara soal organisasi, tetapi juga menyentuh persoalan sosial yang langsung dirasakan masyarakat.
Sesekali forum menjadi cair oleh candaan khas pesantren. Tetapi ketika pembicaraan menyentuh masa depan generasi muda dan marwah pesantren, ruangan mendadak hening.
Barangkali karena semua sadar, Nahdlatul Ulama bukan hanya organisasi besar. Ia adalah rumah panjang warisan para ulama. Tempat orang belajar agama, belajar akhlak, sekaligus belajar mencintai Indonesia tanpa harus membenci yang berbeda.
Dan di Pondok Pesantren Al-Muslim Kota Sukabumi itu, api kecil bernama kaderisasi tampaknya sedang dijaga agar tetap menyala. (Ran)

