Foto : Koordinator KPNU Sukabumi Raya sekaligus Anggota Komisioner Komnas Perempuan, Daden Sukendar.
KATASUKABUMI.com — Pesantren sejak dahulu bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah rumah pendidikan akhlak. Tempat orang tua menitipkan anak dengan harapan pulang membawa ilmu, adab dan masa depan yang lebih baik.
Karena itu, ketika berbagai persoalan sosial mulai menyentuh dunia pendidikan, banyak kalangan merasa perlu menjaga marwah pesantren agar tetap menjadi ruang aman dan nyaman bagi generasi muda.
Hal itulah yang menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan silaturahmi dan temu Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) Sukabumi Raya yang digelar akhir pekan (17/5) di Kota Sukabumi.
Dalam forum yang dihadiri ratusan kader tersebut, perhatian terhadap perlindungan perempuan dan anak menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai moral, pendidikan, dan tanggung jawab sosial di tengah masyarakat.
Koordinator KPNU Sukabumi Raya sekaligus Anggota Komisioner Komnas Perempuan, Daden Sukendar, mengatakan kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan dan Anak (KBGTPA) secara nasional mengalami peningkatan cukup signifikan.
Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan RI Tahun 2025, jumlah kasus secara nasional mencapai 376.529 kasus atau meningkat sekitar 14,07 persen dibanding tahun 2024 yang tercatat sebanyak 330.097 kasus.
Sementara di wilayah Sukabumi, terdapat sekitar 25 laporan kasus yang diterima melalui Forum Pengada Layanan (FPL) Indonesia, di antaranya melalui Lensa Sukabumi.
Menurut Daden, persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama tanpa harus mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pesantren maupun lembaga pendidikan Islam yang selama ini memiliki kontribusi besar dalam membangun moral bangsa.
“Pesantren dan lembaga pendidikan adalah tempat mulia untuk membentuk akhlak generasi bangsa. Karena itu marwah pesantren harus terus dijaga bersama,” ujarnya kepada katasukabumi.com di sela-sela kegiatan temu kader KPNU.
Ia menegaskan, upaya pencegahan kekerasan bukan untuk menyudutkan lembaga pendidikan tertentu, melainkan bagian dari ikhtiar bersama agar lingkungan pendidikan tetap sehat, aman dan sesuai nilai-nilai agama.
“Kita ingin melakukan edukasi dan penguatan pemahaman kepada masyarakat serta pengelola pendidikan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Menurutnya, ajaran agama dan nilai Ahlussunnah wal Jamaah sejak awal mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, termasuk perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Karena itu, lanjut Daden, langkah pendidikan publik dan pengawasan perlu terus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga media massa.
“Media juga memiliki peran penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan membangun keberanian untuk melawan ketidakadilan,” ujarnya.
Selain itu, Komnas Perempuan juga terus mendorong gerakan pencegahan kekerasan dimulai dari lingkungan keluarga sebagai ruang pertama pendidikan karakter.
“Kalau keluarga menjadi ruang aman, maka lingkungan masyarakat juga akan menjadi ruang aman,” kata Daden.
Kegiatan silaturahmi kader NU tersebut berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Selain mempererat hubungan antar kader, forum itu juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga pesantren tetap menjadi tempat lahirnya ilmu, akhlak dan keteladanan bagi masyarakat.(Ran)

