KATASUKABUMI.com– Ada fenomena menarik di balik angka inflasi Kota Sukabumi yang kini resmi dinyatakan “sembuh” dari krisis. Saat daerah lain biasanya dipusingkan oleh harga beras atau cabai, Kota Sukabumi justru mencatatkan emas perhiasan sebagai aktor utama penggerak ekonomi daerah.
Berdasarkan data Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, inflasi year on year (y-on-y) Kota Sukabumi pada April 2026 tercatat sebesar 2,57 persen. Angka tersebut dinilai sudah berada dalam kondisi ideal dan aman karena masih sesuai rentang target nasional inflasi sebesar 2,5 persen dengan deviasi plus minus satu persen.
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Eneng Rahmi, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan Kota Sukabumi mulai keluar dari tekanan inflasi tinggi yang sempat terjadi pada awal tahun.
“Kalau untuk bulan April sekarang sudah alhamdulillah 2,57 persen. Jadi sudah aman posisinya, sudah keluar dari krisis,” ujar Eneng katasukabumi.com (13/5)
Sebelumnya, inflasi Kota Sukabumi sempat menyentuh angka 3,74 persen pada Januari, melonjak menjadi 4,88 persen pada Februari, lalu turun ke 3,68 persen pada Maret 2026.
Menurut Eneng Rahmi, karakter inflasi Kota Sukabumi berbeda dibanding daerah lain di Jawa Barat. Inflasi di Kota Sukabumi lebih banyak dipengaruhi kelompok administered price dan inflasi inti (core inflation), bukan hanya dari sektor pangan bergejolak (volatile food).
Yang paling menarik, emas perhiasan justru menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kontribusi mencapai sekitar 0,82 persen.
“Kalau Kota Sukabumi itu unik. Emas perhiasan selalu jadi penyumbang tertinggi. Mungkin masyarakat lagi banyak beli emas,” katanya.
Selain emas, komoditas lain yang turut memengaruhi inflasi di antaranya kontrak rumah, sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), minyak goreng, hingga martabak.
Eneng menjelaskan, penurunan inflasi pada April dipengaruhi mulai stabilnya sejumlah harga yang sebelumnya mengalami kenaikan cukup tinggi, seperti tarif listrik, rokok dan pembelian mobil.
Di sisi lain, beberapa komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, beras dan tahu mentah masih menjadi perhatian pemerintah daerah karena mengalami kenaikan harga.
Meski begitu, Eneng menilai kondisi inflasi saat ini justru berada pada titik yang ideal. Ia menyebut inflasi yang terlalu rendah juga bukan pertanda baik karena dapat menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat.
“Kalau inflasi terlalu rendah juga tidak bagus. Kalau sampai di bawah dua persen, itu bisa berarti masyarakat sudah tidak punya uang untuk belanja. Jadi inflasi itu idealnya di tengah-tengah,” jelasnya.
Data inflasi April 2026 juga menunjukkan posisi Kota Sukabumi masih sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata Jawa Barat dan nasional. Namun secara peringkat, Kota Sukabumi berada di posisi keenam tertinggi di Jawa Barat, di bawah Kabupaten Majalengka, Kota Tasikmalaya, Kota Cirebon, Kota Bogor dan Kota Bandung.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Sukabumi terus melakukan pemantauan pasar dan menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM) jika terjadi lonjakan harga bahan pokok.
“Kita selalu memantau. Kalau nanti daging, telur, atau beras naik lagi, kita akan lebih banyak mengadakan gerakan pangan murah,” ujar Eneng.
Eneng juga mengimbau masyarakat agar tetap berbelanja secara bijak dan tidak melakukan aksi borong berlebihan.
“Belanja bijak saja, normal-normal saja,” pungkasnya.

