KATASUKABUMI.com— Di kota Sukabumi, suara RT dan RW semakin lantang. Bukan di gang sempit. Bukan di warung kopi. Tapi dalam surat resmi yang nadanya lebih mirip gugatan batin masyarakat bawah.
Forum Komunikasi RT-RW (FK RT-RW) Kota Sukabumi mengeluarkan pernyataan terbuka yang kini beredar ke mana-mana. Dari grup WhatsApp keluarga sampai grup whatsApp tingkat Kota.
Isinya tidak sedang bercanda.

Mereka menyebut jawaban pemerintah atas tuntutan RT-RW terasa tidak berdasar. Bahkan ada kalimat yang cukup keras, dianggap hanya “membodoh-bodohi” RT dan RW se-Kota Sukabumi.
Kalimat seperti itu biasanya lahir bukan karena marah sesaat. Tapi karena terlalu lama menahan kecewa.
Dalam surat tersebut, FK RT-RW juga kembali menagih soal dana abadi Rp10 juta per RT yang sebelumnya ramai disebut dalam janji politik.
Mereka meminta agar janji itu tidak dikaitkan dengan program Qardhul Hasan.
Di titik ini, polemik mulai berubah bentuk. Ia bukan lagi soal angka dalam APBD. Tapi soal ingatan masyarakat terhadap ucapan-ucapan yang dulu dilempar saat harapan sedang murah-murahnya.
FK RT-RW juga mengaku tidak mengetahui program Qardhul Hasan yang disebut pemerintah. Mereka bahkan menyebut informasi di lapangan menunjukkan program itu dikelola yayasan tertentu tanpa melibatkan RT dan RW.
Di sinilah publik mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang sedang berjalan bersama rakyat dan siapa yang hanya berjalan di depan rakyat sambil sesekali menoleh ke belakang.
Yang lebih menarik, forum tersebut menilai pemerintah tidak konsisten. Di satu sisi dana abadi disebut berpotensi menjadi temuan BPK. Tapi di sisi lain, program serupa disebut tetap berjalan melalui yayasan.
Masyarakat kecil memang tidak terlalu hafal bahasa regulasi. Tapi mereka hafal satu hal, janji yang dulu diucapkan dengan penuh keyakinan.
Maka ketika penjelasan mulai lebih banyak daripada kepastian, keresahan pun pelan-pelan berubah menjadi kecurigaan.
Pada bagian akhir surat, FK RT-RW menyampaikan harapan agar tidak ada pembatasan ruang aspirasi masyarakat. Mereka juga menyinggung adanya dugaan tekanan terhadap struktur pemerintahan di bawah agar RT dan RW tidak terlalu banyak bersuara.
Dan seperti semua kegelisahan rakyat kecil yang terlalu lama ditahan, surat itu ditutup dengan satu kalimat pendek yang terasa lebih keras dari pengeras suara demonstrasi.
“Semakin diredam akan semakin melawan.”
Kalimat itu kini beredar lebih cepat daripada klarifikasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pihak FK RT-RW yang bersedia diwawancarai secara langsung. Para pengurus lingkungan hanya menyampaikan bahwa isi surat tersebut merupakan hasil rembug bersama dan seluruh keterangan resmi diserahkan kepada FK RT-RW sebagai representasi forum.
Barangkali mereka mulai sadar, di kota kecil, suara kadang bisa lebih panjang urusannya daripada teriakan. (Ran)

